Logo
Sistem Informasi Desa Adisara
Gambar Artikel

TASYAKURAN RUWAT BUMI DIGELAR DENGAN MERIAH, RATUSAN WARGA IKUTI ARAKAN HASIL BUMI

Desa Adisara — Rabu Pon, 6 Mei 2026, Balai Desa Adisara dipenuhi warga yang datang untuk mengikuti acara tasyakuran ruwat bumi. Kegiatan adat yang diisi prosesi gunungan, doa bersama, sambutan tokoh desa, hingga pentas wayang ini dihadiri Kepala Desa beserta perangkatnya, anggota BPD, LPMD, kader PKK, tokoh adat, serta anggota Karang Taruna.

Pagi hari sekitar pukul 09.00 WIB, masyarakat mulai berkumpul membawa gunungan hasil bumi. Tercatat sekitar sembilan gunungan yang diarak mengelilingi desa, diiringi puluhan sepeda motor sebagai pengantar iring-iringan. Siswa-siswi SDN 1 dan SDN 2 Adisara juga berpartisipasi, menambah semarak suasana sepanjang rute arak-arakan.

Rangkaian acara berlanjut pada pukul 11.30 WIB dengan prosesi doa. Acara dimulai dengan penyampaian hajat oleh sesepuh desa, Mbah Nakum, yang juga juru kunci Padepokan Eyang Jati Kusuma. Doa kemudian dipimpin secara Islam oleh Kyai Mukhlis, yang memohon keselamatan dan keberkahan bagi warga serta hasil pertanian desa.

Dalam sambutannya, Wasikun selaku ketua panitia mengucapkan terima kasih kepada seluruh tamu undangan dan warga yang telah berpartisipasi menjaga serta melestarikan budaya Jawa. “Terima kasih atas kehadiran dan semangat gotong royongnya. Kegiatan ini bagian dari upaya kita memelihara tradisi dan rasa kebersamaan,” ujarnya.

Tutik Rahmi, salah seorang relawati yang tampil memberi sambutan, menekankan pentingnya merawat tradisi agar nilai-nilai luhur turun-temurun tetap terjaga. Ia mengajak generasi muda untuk memahami dan meneruskan kearifan lokal tersebut.

Sementara itu, Sekretaris Camat Jatilawang, Seksianto, S.Sos, menyampaikan apresiasi kepada masyarakat Desa Adisara atas partisipasinya dalam rangkaian kegiatan. Seksianto berharap desa akan terus berkembang menjadi wilayah yang makmur dan sejahtera. “Semoga Desa Adisara menjadi desa yang gemah ripah loh jinawi,” katanya.

Usai prosesi resmi, warga bersama-sama menyantap tenong—tempat bekal makanan tradisional—yang telah dibawa. Ratusan warga yang berkumpul di beberapa titik “kepungan” menikmati hidangan sambil berinteraksi sosial, mempererat tali persaudaraan antarwarga.

Pukul 12.30 WIB, pentas wayang ruwat dimulai. Dalang mengangkat lakon tentang Batara Kala yang juga mengisahkan kisah Dewi Sri, menggambarkan hubungan spiritual antara tokoh mitologis tersebut dan dunia pertanian di Jawa. Pertunjukan wayang berlangsung menarik dan mendidik, menjadi puncak acara yang disaksikan antusias oleh penonton.

Acara tasyakuran ruwat bumi resmi ditutup pada pukul 16.00 WIB setelah rangkaian kegiatan dinilai berjalan lancar dan penuh khidmat.



Tulis Komentar