Sistem Informasi Desa Adisara
Setiap tanggal 28 Oktober, bangsa Indonesia memperingati Hari Sumpah Pemuda sebagai tonggak sejarah persatuan dan kebangkitan nasional. Sembilan puluh tujuh tahun silam, para pemuda dari berbagai daerah dan latar belakang menanggalkan identitas kesukuan demi cita-cita bersama: satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa, Indonesia. Semangat tersebut menjadi pijakan moral bagi generasi muda masa kini untuk terus berkontribusi, termasuk pemuda yang hidup dan tumbuh di desa.
Namun, di tengah derasnya arus modernisasi dan digitalisasi, muncul pertanyaan reflektif: hari ini, pemuda desa bisa apa? Pertanyaan ini bukan bentuk pesimisme, melainkan ajakan untuk merenungkan peran strategis pemuda desa dalam pembangunan bangsa.
Saat ini, kesempatan dan ruang gerak pemuda desa jauh lebih luas dibanding generasi sebelumnya. Akses internet dan teknologi informasi telah membuka peluang yang nyaris tanpa batas. Pemuda desa kini bisa belajar daring, mengembangkan usaha mikro berbasis digital, hingga memasarkan produk lokal ke kancah nasional maupun global. Mereka tidak lagi hanya menjadi penonton perubahan, tetapi dapat menjadi pelaku utama pembangunan dari lingkungannya sendiri.
Meski demikian, tantangan di lapangan masih cukup besar. Kesenjangan konektivitas, rendahnya literasi digital, serta keterbatasan akses modal dan pendampingan masih menjadi hambatan bagi sebagian besar pemuda desa. Di sinilah pentingnya kolaborasi antara pemerintah, lembaga pendidikan, dunia usaha, dan masyarakat sipil untuk memperkuat kapasitas generasi muda di wilayah pedesaan.
Berbagai contoh inspiratif telah muncul dari berbagai pelosok nusantara. Ada pemuda yang mengubah hasil pertanian desa menjadi produk olahan bernilai ekspor. Ada kelompok pemuda yang mengembangkan wisata alam berbasis budaya lokal, serta komunitas yang fokus pada pelestarian lingkungan dan pemberdayaan ekonomi warga. Kisah-kisah ini menunjukkan bahwa semangat Sumpah Pemuda tidak pernah padam; hanya bentuk dan medianya yang berubah sesuai zaman.
Refleksi Hari Sumpah Pemuda pada akhirnya mengajak kita memahami bahwa kemajuan bangsa tidak hanya lahir dari pusat kota, melainkan juga dari desa-desa yang dikelola oleh pemuda berdaya dan berintegritas. Sama persis dengan apa yang pernah dikatakan Bung Hatta bahwa Indonesia akan menyala bukan karena obor terang di ibu kota tetapi dari lilin-lilin di desa. Yakin dengan pengetahuan, kreativitas, serta semangat gotong royong, pemuda desa memiliki potensi besar menjadi garda depan pembangunan berkelanjutan.
Maka, jika ditanya hari ini pemuda desa bisa apa, jawabannya tegas: pemuda desa bisa segalanya, selama mereka mau belajar, berkolaborasi, dan mengabdi untuk desa dan bangsanya.
